Kapan Operasi Perlu untuk Penyakit Parkinson? 👌🏻

parkinson bedah

Pada tahap awal penyakit Parkinson (PD), penggunaan obat-obatan biasanya sangat efektif untuk mengendalikan gejala motorik dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, seiring berjalannya waktu dan penggunaan terapi obat jangka panjang, pasien mungkin mulai mengalami fluktuasi motorik, gerakan tidak terkendali (diskinesia), atau tremor yang tidak lagi mempan dengan obat.

​Jika gejala-gejala tersebut sudah tidak dapat ditangani secara memadai hanya dengan obat oral, maka opsi pembedahan perlu dipertimbangkan.

​Konsep “Jendela Waktu” Operasi

​Operasi sebaiknya ditawarkan selama pasien masih berada dalam “jendela waktu” di mana mereka bisa mendapatkan manfaat maksimal dari prosedur tersebut. Konsultasi awal dengan dokter bedah saraf sangat berguna untuk:

  • ​Mengonfirmasi diagnosis penyakit.
  • ​Memverifikasi efektivitas dosis obat oral yang selama ini digunakan
  • ​Mengevaluasi kemungkinan respons pasien terhadap pilihan pembedahan.

​Deep Brain Stimulation (DBS): Terobosan Penting

​Terapi DBS dianggap sebagai terobosan terpenting kedua setelah penemuan levodopa. Prosedur ini melibatkan penanaman elektroda di otak yang dihubungkan ke alat neurostimulator untuk mengatur jaringan saraf melalui arus listrik.

​Siapa kandidat yang ideal untuk DBS?

​Pasien dengan diagnosis PD idiopatik yang mengalami komplikasi motorik akibat obat levodopa.

​Pasien dengan tremor yang resistan (tidak mempan) terhadap obat.

​Pasien dengan durasi penyakit minimal 4 tahun (berdasarkan studi EARLYSTIM).

​Kontraindikasi (Siapa yang tidak disarankan):

DBS tidak disarankan bagi pasien dengan demensia, gangguan neuropsikiatri berat, penyakit Parkinson atipikal, atau ketidakstabilan postural yang berat.

​Mengenal Prosedur Ablasi (Lesioning Surgery)

​Selain DBS, terdapat opsi operasi ablasi (penghancuran jaringan maladaptif tertentu di otak). Prosedur ini biasanya dipilih untuk pasien yang tidak ingin ada alat (implan) di dalam tubuhnya, atau mereka yang memiliki kendala untuk melakukan kunjungan rutin pascaoperasi.

​Terdapat dua metode utama:

​Lesi Radiofrekuensi (RF): Dilakukan saat pasien terjaga untuk mengonfirmasi perbaikan gejala secara langsung di meja operasi.

​Radiosurgery Stereotaktik (Gamma Knife): Metode non-invasif tanpa sayatan, namun efeknya tidak instan dan batas hasil ablasinya kurang dapat diprediksi.


Punya pertanyaan?
Konsultasikan hasil MRI Anda melalui layanan Opini Kedua Neuroloka atau jadwalkan pertemuan tatap muka di poliklinik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top