Deep Brain Stimulation (DBS): Tremor & Parkinson 🫶🏼

deep brain stimulation for parkinson

Penyakit Parkinson adalah kelainan neurodegeneratif umum yang diderita sekitar 1% populasi berusia di atas 65 tahun. Gangguan motorik masih merupakan sebagai ciri khas klinis terpenting dalam diagnosis. Gejala parkinson secara klinis adalah adanya bradikinesia, kekakuan, tremor saat istirahat, atau ketidakstabilan postural. Gejala-gejala ini dapat dikompensasi sebagian besar dengan  farmakoterapi. 

Saat ini, Deep brain stimulation (DBS) merupakan salah satu perawatan paling sukses untuk mengatasi gejala PD dan gejala akibat efek samping obat PD.  Dalam beberapa tahun terakhir, generator (IPG) dan elektroda DBS semakin dapat disesuaikan untuk mengoptimalkan kemanjuran terapeutik. Berbeda dengan teknik ablasi, keuntungan DBS meliputi kemampuan beradaptasi, reversibilitas, kerusakan jaringan yang minimal, dan kemampuan untuk melakukan operasi bilateral tanpa  efek samping secara signifikan.

Waktu Pembedahan

Secara tradisional, DBS ditawarkan kepada pasien PD dengan fluktuasi motorik on-off yang parah dan resistan terhadap obat, diskinesia, atau tremor. Namun, pada stadium lanjut penyakit Parkinson, pasien sering mengalami gejala seperti penurunan kognitif, yang mungkin tidak dapat diatasi dengan DBS. Pasien dengan fluktuasi motorik dini harus dipertimbangkan menjadi kandidat operasi DBS yang akan berdampak signifikan pada kualitas hidup pasien. 

Komplikasi dan Efek Samping

Operasi DBS secara umum dianggap dapat ditoleransi dengan baik. Namun, prosedur ini  tetap memiliki risiko. Seperti perdarahan intrakranial, infeksi, dan komplikasi malfungsi implan. Efek penetrasi otak yang mengakibatkan lesi mikro dapat saja mengganggu fungsi kognitif , kelancaran berbahasa atau gangguan kejiwaan untuk sementara waktu. 

Kesimpulan

Meskipun PD belum dapat disembuhkan, pengobatan simtomatik yang efektif kini sudah tersedia. Sama seperti levodopa yang tetap menjadi andalan pengobatan untuk PD, DBS tetap menjadi andalan opsi pembedahan PD. Namun, tidak seperti levodopa, yang dapat diberikan kepada pasien PD mana pun, DBS memerlukan pemilihan pasien untuk menghindari pembedahan. Oleh karena itu, pasien yang memilih untuk tindakan DBS harus menjalani evaluasi komprehensif oleh tim multidisiplin.

Jika Anda masih ragu kapan waktu yang tepat untuk beralih dari obat ke tindakan bedah, Anda dapat mengonsultasikan hasil MRI dan riwayat medis Anda melalui layanan Opini Kedua di Neuroloka.id.”


Punya pertanyaan?
Konsultasikan hasil MRI Anda melalui layanan Opini Kedua Neuroloka atau jadwalkan pertemuan tatap muka di poliklinik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top